Tanda Vokal

Vokal

Sumber : Omniglot.Com

Unicode Aksara Jawa

Aksara Jawa resmi dimasukkan ke dalam Unicode sejak Oktober, 2009, dengan dirilisnya Unicode versi 5.2. Blok Unicode aksara Jawa terletak pada kode U+A980–U+A9DF. Terdapat 91 kode yang mencakup 53 huruf, 19 tanda baca, 10 angka, dan 9 vokal. Sel abu-abu menunjukkan titik kode yang belum terpakai.

00020003 A  0003 B

0004

Untuk mendownload Aksara Jawa dan keyboardnya di PC, silahkan ke link berikut ini :

http://sasayota.jimdo.com/kaca-undhuhan/

Untuk menulis Aksara Jawa di Android, silahkan ke link berikut ini :

http://sasayota.jimdo.com/sinau-nulis-aksara-jawa/

Asal Usul Aksara Jawa

BAGAN SILSILAH AKSARA JAWA

10885558_740902372696797_1013740492305632404_n

Kawi I : Aksara Kawi dengan pasangan.

Kawi II : Aksara Kawi tanpa pasangan seperti yang dipakai di Prasasti Candi Sukuh.

===

Proses pembentukan Aksara Jawa dari Aksara Kawi :

10702067_1514894218752200_2080442553491459451_n

Kawi 19

Aksara Kawi disatukan dengan Taling-Tarung Kawi, dan terbentuklah Aksara Jawa.

===

Aksara Jawa adalah sistem tulisan Abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Setiap aksara di dalamnya melambangkan suatu suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/, yang dapat ditentukan dari posisi aksara di dalam kata tersebut. Penulisan aksara Jawa dilakukan tanpa spasi (scriptio continua), dan karena itu pembaca harus paham dengan teks bacaan untuk dapat membedakan tiap kata.

Aksara Jawa dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Aksara dasar yang berupa suku kata dengan vokal /a/ atau /ɔ/ memiliki dua bentuk, yang disebut nglegena (aksara telanjang), dan pasangan (ini adalah bentuk subskrip yang digunakan untuk menulis gugus konsonan), sementara jenis lain meliputi aksara suara, tanda baca, dan angka Jawa. Setiap suku kata dalam aksara Jawa.

Sejumlah tanda diakritik yang disebut sandhangan berfungsi untuk mengubah vokal (layaknya harakat pada abjad Arab), menambahkan konsonan akhir, dan menandakan ejaan asing. Beberapa tanda diakritik dapat digunakan bersama-sama, namun tidak semua kombinasi diperbolehkan.

Tulisan Jawa dan Bali adalah perkembangan modern aksara Kawi, salah satu turunan aksara Brahmi yang berkembang di Jawa. Pada masa periode Hindu-Buddha, aksara tersebut terutama digunakan dalam literatur keagamaan dan terjemahan Sanskerta yang biasa ditulis dalam naskah daun lontar. Selama periode Hindu-Buddha, bentuk aksara Kawi berangsur-angsur menjadi lebih Jawa, namun dengan ortografi yang tetap. Pada abad ke-17, tulisan tersebut telah berkembang menjadi bentuk modernnya dan dikenal sebagai Carakan atau hanacaraka berdasarkan lima aksara pertamanya.

Carakan terutama digunakan oleh penulis dalam lingkungan kraton kerajaan seperti Surakarta dan Yogyakarta untuk menulis naskah berbagai subjek, di antaranya cerita-cerita (serat), catatan sejarah (babad), tembang kuno (kakawin), atau ramalan (primbon). Subjek yang populer akan berkali-kali ditulis ulang. Naskah umum dihias dan jarang ada yang benar-benar polos. Hiasan dapat berupa tanda baca yang sedikit dilebih-lebihkan atau pigura halaman (disebut wadana) yang rumit dan kaya warna.

Pada tahun 1926, sebuah lokakarya di Sriwedari, Surakarta menghasilkan Wewaton Sriwedari (Ketetapan Sriwedari), yang merupakan landasan awal standarisasi ortografi aksara Jawa. Setelah kemerdekaan Indonesia, banyak panduan mengenai aturan dan ortografi baku aksara Jawa yang dipublikasikan, di antaranya Patokan Panoelise Temboeng Djawa oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1946, dan sejumlah panduan yang dibuat oleh Kongres Bahasa Jawa (KBJ) antara 1991 sampai 2006. KBJ juga berperan dalam implementasi aksara Jawa di Unicode.

Namun dari itu, penggunaan aksara Jawa telah menurun sejak ortografi Jawa berbasis huruf latin ditemukan pada 1926, dan sekarang lebih umum menggunakan huruf latin untuk menulsi bahasa Jawa. Aksara Jawa masih diajarkan sebagai muatan lokal pada sekolah dasar dan sekolah menengah di provinsi yang berbahasa Jawa.

===

Sumber :

1. Wikipedia

2. Grup Sinau Aksara Jawa & Sinau Nulis Jawa

3. honocoroko.tk

Mitologi Aksara Jawa

Di antara beberapa etnis, budaya Jawa terhitung lengkap, karena selain memiliki bahasa, budaya Jawa juga dilengkapi dengan huruf atau aksara, yang lebih dikenal sebagai huruf atau aksara jawa.

Mungkin tak semua bahasa dan budaya daerah memiliki huruf masing-masing, namun budaya Jawa memilikinya. Huruf itu tak terjadi dengan sendirinya. Namun ada sejarah di balik terciptanya huruf ini. Dan dalam cerita itu terkandung banyak makna dan filosofi yang terkandung didalamnya. Tentang berbagai ajaran luhur tentang mengemban amanat, sikap ksatria, loyal terhadap atasan, memegang teguh kejujuran, kerendahan atasan mengakui kesalahannya, tentang keserakahan atau nafsu yang mampu dikalahkan oleh kesucian dan banyak lagi filosofi yang terkandung dalam cerita tersebut.

http://purnomoonly.files.wordpress.com/2011/05/ajisaka-7.jpgCerita Dibalik Terjadinya Huruf Jawa (Legenda Hanacaraka)

Dikisahkan ada seorang pemuda tampan yang sakti mandraguna, yaitu Ajisaka. Ajisaka tinggal di pulau Majethi bersama dua orang punggawa (abdi) setianya yaitu Dora dan Sembada. Kedua abdi ini sama-sama setia dan sakti. Satu saat Ajisaka ingin pergi meninggalkan pulau Majethi. Dia menunjuk Dora untuk menemaninya mengembara. Sedangkan Sembada, disuruh tetap tinggal di pulau Majethi. Ajisaka menitipkan pusaka andalannya untuk dijaga oleh Sembada. Dia berpesan supaya jangan menyerahkan pusaka itu kepada siapa pun, kecuali pada Ajisaka sendiri.

Lain kisah, di pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang sangat makmur sejahtera yaitu kerajaan Medhangkamulan. Rakyatnya hidup sejahtera. Kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh seorang raja arif bijaksana bernama Dewatacengkar. Prabu Dewatacengkar sangat cinta terhadap rakyatnya.

Pada suatu hari ki juru masak kerajaan Medhangkamulan yang bertugas membuat makanan untuk prabu Dewatacengkar mengalami kecelakaan saat memasak. Salah satu jarinya terkena pisau hingga putus dan masuk ke dalam masakannya tanpa dia ketahui. Disantaplah makanan itu oleh Dewatacengkar. Dia merasakan rasa yang enak pada masakan itu. Dia bertanya daging apakah itu. Ki juru masak baru sadar bahwa dagingnya disantap Dewatacengkar dan menjawab bahwa itu adalah daging manusia. Dewatacengkar ketagihan dan berpesan supaya memasakkan hidangan daging manusia setiap hari. Dia meminta sang patih kerajaan supaya mengorbankan rakyatnya setiap hari untuk dimakan.

Oleh karena terus menerus makan daging manusia, sifat Dewatacengkar berubah 180 derajat. Dia berubah menjadi raja yang kejam lagi bengis. Daging yang disantapnya sekarang adalah daging rakyatnya. Rakyatnya pun sekarang hidup dalam ketakutan. Tak satupun rakyat berani melawannya, begitu juga sang patih kerajaan.

Saat itu juga Ajisaka dan Dora tiba di kerajaan Medhangkamulan. Mereka heran dengan keadaan yang sepi dan menyeramkan. Dari seorang rakyat, beliau mendapat cerita kalau raja Medhangkamulan gemar makan daging manusia. Ajisaka menyusun siasat. Dia menemui sang patih untuk diserahkan kepada Dewatacengkar agar dijadikan santapan. Awalnya sang patih tidak setuju dan kasihan. Tetapi Ajisaka bersikeras dan akhirnya diizinkan.

Dewatacengkar keheranan karena ada seorang pemuda tampan dan bersih ingin menyerahkan diri. Ajisaka mengatakan bahwa dia mau dijadikan santapan asalkan dia diberikan tanah seluas ikat kepalanya dan yang mengukur tanah itu harus Dewatacengkar. Sang prabu menyetujuinya. Kemudian mulailah Dewatacengkar mengukur tanah. Saat digunakan untuk mengukur, tiba-tiba ikat kepala Dewatacengkar meluas tak terhingga. Kain itu berubah menjadi keras dan tebal seperti lempengan besi dan terus meluas sehingga mendorong Dewatacengkar. Dewatacengkar terus terdorong hingga jurang pantai laut selatan. Dia terlempar ke laut dan seketika berubah menjadi seekor buaya putih. Ajisaka kemudian dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan.

Setelah penobatan, Ajisaka mengutus Dora pergi ke pulau Majethi untuk mengambil pusaka andalannya. Kemudian pergilah Dora ke pulau Majethi. Sesampai di pulau Majethi, Dora menemui Sembada untuk mengambil pusaka. Sembada teringat akan pesan Ajisaka saat meninggalkan pulau Majethi untuk tidak menyerahkan pusaka tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka. Dora yang juga berpegang teguh pada perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka memaksa supaya pusaka itu diserahkan. Kedua abdi setia tersebut beradu mulut bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Dan akhirnya mereka berdua bertempur. Pada awalnya mereka berdua hati-hati dalam menyerang karena bertarung melawan temannya sendiri. Tetapi pada akhirnya benar-benar terjadi pertumpahan darah. Sampai pada titik akhir yaitu kedua abdi tersebut tewas dalam pertarungan karena sama-sama sakti.

Berita tewasnya Dora dan Sembada terdengar sampai Ajisaka. Dia sangat menyesal atas kesalahannya yang membuat dua punggawanya meninggal dalam pertarungan. Dia mengenang kisah kedua punggawanya lewat deret aksara. Berikut tulisan dan artinya:


Ha Na Ca Ra Ka
Ada sebuah kisah

Da Ta Sa Wa La
Terjadi sebuah pertarungan

Pa Dha Ja Ya Nya
Mereka sama-sama sakti

Ma Ga Ba Tha Nga
Dan akhirnya semua mati

Sejak saat itu juga sesuai dengan urutan kata-kata yang disabdakan oleh Sang Aji Saka terbabarlah susunan aksara Jawa dan paham hidup orang Jawa, yaitu Jawaisme namanya, baik tentang kosmologia, antroposentris tentang manusia, maupun ketauhidan Tuhan yang Mahakuasa.

https://i2.wp.com/nusantaranger.com/marcapada/wp-content/uploads/2014/02/hanacaraka.jpg

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ”utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ”saatnya (dipanggil)” tidak boleh sawala ”mengelak” manusia (dengan segala atributnya) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Ilahi) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksudnya padha ”sama” atau sesuai, jumbuh, “cocok” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ”menang, unggul” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ”sekedar menang” atau menang tidak sportif.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Makna Huruf HANACARAKA :

  1. Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
  2. Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
  3. Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
  4. Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
  5. Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
  6. Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
  7. Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
  8. Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
  9. Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
  10. La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
  11. Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
  12. Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
  13. Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
  14. Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
  15. Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
  16. Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
  17. Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
  18. Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
  19. Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
  20. Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia

Demikianlah gambaran mitologi tentang Aksara Jawa, dalam beberapa komunitas terdapat banyak pandangan mitologis lain tentang aksara Jawa dan penjabarannya. Sekali lagi kisah ini adalah sebuah mitologi, terlepas dari benar atau tidaknya cerita ini dalam perjalanan sejarah.

Disadur dari berbagai sumber.

Prinsip Dasar Belajar Aksara Jawa

Bertahan dan tetap eksisnya aksara Jawa hingga saat ini, tentu bukanlah hal yang kebetulan semata, sebuah hasil teknologi yang dikembangkan pada masa lampau, dan mampu mengangkat budaya Jawa berada pada level yang bisa dibilang maju, karena bahasa Jawa hadir dengan aksara sendiri, tata tulis sendiri.

Keberadaan aksara Jawa yang telah melintasi kurun waktu dengan kondisi jaman yang berbeda, tentu saja membawa warna tersendiri bagi perkembangan aksara itu sendiri. Corak langgam, serta tata tulis, jelas tidak bisa dilepaskan begitu saja terhadap pengaruh serta keberadaan pusat kerajaan dan pengaruhnya dengan dunia barat yang lambat laun mendominasi kehidupan, sosial, budaya masyarakat Jawa.

Bagi kita yang mungkin tertarik dengan keberadaan aksara Jawa, dan tetap ingin menggunakan aksara Jawa, meskipun pada kenyataannya kita suku Jawa, sudah tidak lagi menggunakan aksara Jawa dalam kehidupan sehari – hari, karena sejak semakin surutnya pengaruh politik raja – raja Jawa oleh dominasi kolonialis Belanda, Indonesia yang kemudian menjadi pelabuhan dalam bernegara menggunakan aksara Latin sebagai aksara resmi, maka dengan demikian sudah barang tentu menjadi keharusan bagi orang Jawa untuk juga menggunakan aksara Latin, dan melepas aksara mereka sendiri.

Di era sekarang, mulai banyak bermunculan generasi penerus yang peduli dan rindu akan keberadaan aksara Jawa, namun karena telah begitu lama tertidur, maka keberadaan aksara Jawa dengan tata penulisannya pun semakin beragam dan disusun sedemikian rupa sehingga diharapkan bisa lebih memudahkan kita menggunakan lagi aksara peninggalan tersebut. Paling tidak pedoman penulisan aksara Jawa yang dibukukan dan dianggap resmi sebagai pedoman penulisan aksara Jawa yang pernah ada dan kita kenal antara lain :

1. Pedoman penulisan aksara Jawa Mardi Kawi

Ditilik dari penggunaan nomenklatur pedoman ini jelas sekali, Mardi dalam kamus atau Baoesastra Djawa diartikan mulang wuruk yaitu belajar, mempelajari Kawi, Kawi dalam konteks ini tentu saja bagian dari bahasa serta tata tulis yang digunakan pada bahasa Jawa Kuna dan Pertengahan, penggunaan bahasa dan tata tulisnya didasarkan pada tulisan – tulisan yang terekam dalam karya Kakawin dan Kidung.

Sehingga munculnya pedoman Mardi Kawi paling tidak sebagai pijakan untuk bisa memahami tata tulis dalam kedua karya sastra tersebut, yaitu Kakawin dan Kidung.

Pedoman ini ditulis dan diresmikan penggunaannya tahun 1860, oleh W.J.S Poerwadarminta, ditulis dengan aksara Jawa di Yogyakarta, yang kemudian dicetak pada tahun 1930 oleh Uitgeverij en Boekhandel – Stoomdrukkerij “De Bliksem” Solo.

2. Pedoman Penulisan Sriwedari

Pedoman ini judul aslinya Wawaton Panjeratanipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi dalasan Angka, karena pedoman ini diresmikan penggunaannya di Sriwedari pada tahun 1928, maka pedoman penulisan ini kemudian lebih dikenal sebagai Wawaton Sriwedari. Inti dari pedoman penulisan Sriwedari terbilang masih sedikit banyak mengacu pada pedoman penulisan Mardi Kawi, meskipun banyak hal yang mulai dirubah. Dasar penulisan pada pedoman ini adalah penulisan aksara Jawa didasarkan pada bunyi pengucapan, hal ini tidak didasarkan pada bagaimana kata – kata bahasa Jawa dituliskan dalam aksara Latin, karena kita tahu pada dekade ini penggunaan aksara Latin belum begitu membumi.

3. Pedoman Penulisan Hasil Konggres Bahasa Jawa II di Batu Malang II 1996

Pedoman penulisan ini muncul sebagai akibat dari amanat Konggres Bahasa Jawa I Semarang, supaya pada Konggres Bahasa Jawa II sudah disusun sebuah bentuk pedoman penulisan yang dianggap paling mutakhir, tidak main – main penggunaan pedoman 1996 ini diperkuat dengan Kesepakatan Bersama Gubernur Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Pedoman penulisan dekade ini merupakan pedoman penulisan yang banyak sekali merubah tata penulisan yang ada pada Sriwedari, hal ini terjadi karena pada pedoman penulisan 1996 ini, penulisan aksara Jawa tidak lagi didasarkan pada pengucapan, namun lebih pada bagaimana kosakata bahasa Jawa tersebut ditulis dalam aksara Latin, baru kemudian dari hasil penulisan dalam aksara Latin itulah, penulisan aksara Jawanya didasarkan.

Perhatikan perbedaan penulisan di bawah ini :

Blog Prinsip Dasar Aksara Jawa

Sumber :
Setya Amrih Prasaja, S.S.
Lingkar Jawa
Paguyuban Pecinta Aksara Jawa – Bantul