Mitologi Aksara Jawa

Di antara beberapa etnis, budaya Jawa terhitung lengkap, karena selain memiliki bahasa, budaya Jawa juga dilengkapi dengan huruf atau aksara, yang lebih dikenal sebagai huruf atau aksara jawa.

Mungkin tak semua bahasa dan budaya daerah memiliki huruf masing-masing, namun budaya Jawa memilikinya. Huruf itu tak terjadi dengan sendirinya. Namun ada sejarah di balik terciptanya huruf ini. Dan dalam cerita itu terkandung banyak makna dan filosofi yang terkandung didalamnya. Tentang berbagai ajaran luhur tentang mengemban amanat, sikap ksatria, loyal terhadap atasan, memegang teguh kejujuran, kerendahan atasan mengakui kesalahannya, tentang keserakahan atau nafsu yang mampu dikalahkan oleh kesucian dan banyak lagi filosofi yang terkandung dalam cerita tersebut.

http://purnomoonly.files.wordpress.com/2011/05/ajisaka-7.jpgCerita Dibalik Terjadinya Huruf Jawa (Legenda Hanacaraka)

Dikisahkan ada seorang pemuda tampan yang sakti mandraguna, yaitu Ajisaka. Ajisaka tinggal di pulau Majethi bersama dua orang punggawa (abdi) setianya yaitu Dora dan Sembada. Kedua abdi ini sama-sama setia dan sakti. Satu saat Ajisaka ingin pergi meninggalkan pulau Majethi. Dia menunjuk Dora untuk menemaninya mengembara. Sedangkan Sembada, disuruh tetap tinggal di pulau Majethi. Ajisaka menitipkan pusaka andalannya untuk dijaga oleh Sembada. Dia berpesan supaya jangan menyerahkan pusaka itu kepada siapa pun, kecuali pada Ajisaka sendiri.

Lain kisah, di pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang sangat makmur sejahtera yaitu kerajaan Medhangkamulan. Rakyatnya hidup sejahtera. Kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh seorang raja arif bijaksana bernama Dewatacengkar. Prabu Dewatacengkar sangat cinta terhadap rakyatnya.

Pada suatu hari ki juru masak kerajaan Medhangkamulan yang bertugas membuat makanan untuk prabu Dewatacengkar mengalami kecelakaan saat memasak. Salah satu jarinya terkena pisau hingga putus dan masuk ke dalam masakannya tanpa dia ketahui. Disantaplah makanan itu oleh Dewatacengkar. Dia merasakan rasa yang enak pada masakan itu. Dia bertanya daging apakah itu. Ki juru masak baru sadar bahwa dagingnya disantap Dewatacengkar dan menjawab bahwa itu adalah daging manusia. Dewatacengkar ketagihan dan berpesan supaya memasakkan hidangan daging manusia setiap hari. Dia meminta sang patih kerajaan supaya mengorbankan rakyatnya setiap hari untuk dimakan.

Oleh karena terus menerus makan daging manusia, sifat Dewatacengkar berubah 180 derajat. Dia berubah menjadi raja yang kejam lagi bengis. Daging yang disantapnya sekarang adalah daging rakyatnya. Rakyatnya pun sekarang hidup dalam ketakutan. Tak satupun rakyat berani melawannya, begitu juga sang patih kerajaan.

Saat itu juga Ajisaka dan Dora tiba di kerajaan Medhangkamulan. Mereka heran dengan keadaan yang sepi dan menyeramkan. Dari seorang rakyat, beliau mendapat cerita kalau raja Medhangkamulan gemar makan daging manusia. Ajisaka menyusun siasat. Dia menemui sang patih untuk diserahkan kepada Dewatacengkar agar dijadikan santapan. Awalnya sang patih tidak setuju dan kasihan. Tetapi Ajisaka bersikeras dan akhirnya diizinkan.

Dewatacengkar keheranan karena ada seorang pemuda tampan dan bersih ingin menyerahkan diri. Ajisaka mengatakan bahwa dia mau dijadikan santapan asalkan dia diberikan tanah seluas ikat kepalanya dan yang mengukur tanah itu harus Dewatacengkar. Sang prabu menyetujuinya. Kemudian mulailah Dewatacengkar mengukur tanah. Saat digunakan untuk mengukur, tiba-tiba ikat kepala Dewatacengkar meluas tak terhingga. Kain itu berubah menjadi keras dan tebal seperti lempengan besi dan terus meluas sehingga mendorong Dewatacengkar. Dewatacengkar terus terdorong hingga jurang pantai laut selatan. Dia terlempar ke laut dan seketika berubah menjadi seekor buaya putih. Ajisaka kemudian dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan.

Setelah penobatan, Ajisaka mengutus Dora pergi ke pulau Majethi untuk mengambil pusaka andalannya. Kemudian pergilah Dora ke pulau Majethi. Sesampai di pulau Majethi, Dora menemui Sembada untuk mengambil pusaka. Sembada teringat akan pesan Ajisaka saat meninggalkan pulau Majethi untuk tidak menyerahkan pusaka tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka. Dora yang juga berpegang teguh pada perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka memaksa supaya pusaka itu diserahkan. Kedua abdi setia tersebut beradu mulut bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Dan akhirnya mereka berdua bertempur. Pada awalnya mereka berdua hati-hati dalam menyerang karena bertarung melawan temannya sendiri. Tetapi pada akhirnya benar-benar terjadi pertumpahan darah. Sampai pada titik akhir yaitu kedua abdi tersebut tewas dalam pertarungan karena sama-sama sakti.

Berita tewasnya Dora dan Sembada terdengar sampai Ajisaka. Dia sangat menyesal atas kesalahannya yang membuat dua punggawanya meninggal dalam pertarungan. Dia mengenang kisah kedua punggawanya lewat deret aksara. Berikut tulisan dan artinya:


Ha Na Ca Ra Ka
Ada sebuah kisah

Da Ta Sa Wa La
Terjadi sebuah pertarungan

Pa Dha Ja Ya Nya
Mereka sama-sama sakti

Ma Ga Ba Tha Nga
Dan akhirnya semua mati

Sejak saat itu juga sesuai dengan urutan kata-kata yang disabdakan oleh Sang Aji Saka terbabarlah susunan aksara Jawa dan paham hidup orang Jawa, yaitu Jawaisme namanya, baik tentang kosmologia, antroposentris tentang manusia, maupun ketauhidan Tuhan yang Mahakuasa.

https://i2.wp.com/nusantaranger.com/marcapada/wp-content/uploads/2014/02/hanacaraka.jpg

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ”utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ”saatnya (dipanggil)” tidak boleh sawala ”mengelak” manusia (dengan segala atributnya) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup (Ilahi) dengan yang diberi hidup (makhluk). Maksudnya padha ”sama” atau sesuai, jumbuh, “cocok” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ”menang, unggul” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ”sekedar menang” atau menang tidak sportif.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Makna Huruf HANACARAKA :

  1. Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
  2. Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
  3. Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
  4. Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
  5. Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
  6. Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
  7. Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
  8. Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
  9. Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
  10. La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
  11. Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
  12. Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
  13. Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
  14. Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
  15. Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
  16. Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
  17. Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
  18. Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
  19. Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
  20. Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia

Demikianlah gambaran mitologi tentang Aksara Jawa, dalam beberapa komunitas terdapat banyak pandangan mitologis lain tentang aksara Jawa dan penjabarannya. Sekali lagi kisah ini adalah sebuah mitologi, terlepas dari benar atau tidaknya cerita ini dalam perjalanan sejarah.

Disadur dari berbagai sumber.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s